Cari Blog Ini

Sabtu, 29 November 2014

MODUL II "MULTIMETER"


bagian-bagian dan  fungsinya :
1.         Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (Zero Adjust Screw), berfungsi untuk mengatur   kedudukan jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih kecil.
2.         Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukan zero (Zero Ohm Adjust Knob), berfungsi    untuk mengatur jarum penunjuk pada posisi nol. Caranya : saklar (Ohm), test lead + (merah Wpemilih diputar pada posisi dihubungkan ke test lead – (hitam), kemudian tombol diputar ke kiri atau ke kanan Wpengatur kedudukan 0 .sehingga menunjuk pada kedudukan 0
3.         Saklar pemilih (Range Selector Switch), berfungsi untuk memilih posisi pengukuran dan          batas ukurannya. Multimeter biasanya terdiri dari empat posisi pengukuran, yaitu :
  • (Ohm) berarti multimeter berfungsi sebagai W(4) Posisi ohmmeter, yang terdiri dari tiga batas ukur : x 1; x 10; Wdan KPosisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
  • Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
  • Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500.
          Tetapi ke empat batas ukur di atas untuk tipe multimeter yang satu dengan yang lain batas ukurannya belum tentu sama.
4.       Terminal, berfungsi sebagai W(9) Lubang kutub + (V A tempat masuknya test lead kutub + yang berwarna merah.
5.       Lubang kutub – (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub – yang berwarna hitam.
6.         Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih polaritas DC        atau AC.
7.         Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen multimeter.
8.         Jarum penunjuk meter (Knife –edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk besaran yandiukur.
9.         Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.

KEGUNAAN MULTIMETER ADALAH SEBAGAI BERIKUT : 


1.      Mengukur tegangan DC
2.      Mengukur tegangan AC
3.      Mengukur kuat arus DC
4.      Mengukur nilai hambatan sebuah resistor
5.      Mengecek hubung-singkat / koneksi
6.      Mengecek transistor
7.      Mengecek kapasitor elektrolit
8.      Mengecek dioda, led dan dioda zener
9.      Mengecek induktor
10.    Mengukur HFE transistor (type tertentu)
11.    Mengukur suhu (type tertentu)

  • KESIMPULAN
                     Praktikum fisika pada modul II multimeter mengukur tegangan,arus dan tahanan telah dilakukan. Dari praktikumm tesebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Besarnya nilai resistansi suatu resistor tergantung urutan warna yang tertera pada cincin resistor.
  2. Perbedaan hasil pengukuran suatu resistansi dengan pembacaan pada warna cincin disebabkan oleh keadaan multimeter yang tidak stabil.
  3. Resistor yang dipasang seri akan memiliki daya resistansi yang kuat/tinggi dibandingkan resistor yang dipasang secara paralel.
  4. Dalam melakukan pengukuran dengan menggunakan multimeter (ohm meter) analog pada saat melakukan perubahan batas ukur, perlu melakukan kalibrasi atau menghubung singkat untuk mengatur jarum multimeter (ohm meter) analog pada posisi 0 (nol), agar pengukuran menjadi akurat.     

MODUL I "PENGUKURAN"

Definisi spesifikasi dan toleransi 


  1. Spesifikasi
               Spesifikasi adalah perincian jenis dan level komponen yang akan dipakai. Spesifikasi bisa    juga menjadi patokan atau acuan suatu alatt atau komponen yang digunakan. Dan sebagai menentukan bentuk dan ukuran suatu benda.
Contoh spesifikasi :




  2. Toleransi (tolerance)
Toleransi ukuran (dimensional tolerance) adalah perbedaan antara dua harga batas dimana ukuran atau jarak permukaan / batas geometri suatu komponen harus terletak. Kedua harga batas toleransi dapat dinyatakan sebagai penyimpangan (deviation) terhadap ukuran dasar yang sudah didefinisikan terlebih dahulu. Sedapat mungkin ukuran dasar dinyatakan dalam bilangan bulat. 
Penulisan Toleransi Ukuran/Dimensi
Macam macam toleransi.
.    a.   Toleransi Umum (SN 258440)
Toleransi unum biasanya dibagi menjadi menjadi tiga menurut tingkat ketelitian. Yaitu halus, menengah dan kasar :
.

b.    Toleransi ISO
  Merupakan jenis toleransi menurut standard internasional.



  • KESIMPULAN
             Pada praktek fisika pertama dengan materi pengukuran menggunakan alat dan bahan antara lain :
  • Mistar
  • Jangka Sorong
  • Gelas ukur 5 ml
  • Gelas ukur 10 ml
  • Papan
  • Gulungan Lakban
  •  Resistor
  • Tutup botol 
  • Air
             Dari praktek yang telah dilakukan oleh masing-masing mahasiswa yang telah dibagi dalam kelompok memiliki hasil yang berbeda-beda. hasil yang berbeda-beda tersebut terjadi karena berbagai faktor. dan faktor-faktor tersebut antara lain :
  • Ketidak akuratan alat ukur, karena masing-masing alat ukur memiliki tingkat ketelitian yang berbada-beda. 
  • Benda ukur yang tidak datar, seperti pada tutup botol mineral pada diameter bagian dalam.
  • Penerapan metode pengukuran yang berbeda-beda oleh setiap mahasiswa.
  • Ketidak telitian mahasiswa dalam melakukan pengukuran benda-benda. 
                 Dari hasil praktek pengukuran dengan alat dan bahan tersebut diatas dapa ditarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Tingkat ketelitian Jangka sorong lebih tinggi dari pada mistar. Jadi,ketepatan pengukuran dengan menggunakan Jangka sorong lebih akurat dari mistar.
  2. Jangka Sorong tidak hanya digunakan untuk mengukur Panjang, tetapi dapat mengukur diameter dalam dan luar suatu benda seperti pada lakban serta dapat mengukur kedalaman suatu lubang seperti kedalaman pada tututp botol. 
  3. Hasil Pengukuran harus dituangkan dalam bentuk tabel dengan baik agar tidak perlu dilakukan pengukuran ulang yang mengaibatkan lamanya proses perhitungan data kembali.
  4. Pengukuran harus dilakukan dengan kecermatan yang tinggi dan dilakukan dengan alat yang sesuai agar hasil pengukuran meminimalisirkan kesalahan.
  5. Mengukur itu sangat penting untuk dilakukan. Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu permasalahan secara kuantitatif. Dan jika dikaitkan dengan proses penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari data-data yang mendukungnya.